Kamis, 26 November 2015

[IDVolunteering] Memaknai Keberadaan Air Bagi Kehidupan – Desa Terapung Krakor, Kamboja


credit : Yoth Tat Akara
Kampung Luong, Krakor, Kamboja
......

Terik matahari Agustus tahun ini menyambutku beserta kawan-kawan satu program ASEAN Youth Volunteer Programme (AYVP) saat pertama kali tiba di Kampung Luong, Desa Krakor, Kamboja setelah menempuh lima jam perjalanan dari Phnom Penh. Kampung Luong - lokasi tujuan utama dari program ini - adalah sebuah komunitas yang unik. Sebanyak lima kampung (commune) telah tinggal selama hampir satu abad mengapung di atas danau alam terbesar di Asia Tenggara, Danau Tonle Sap. Bukan karena ingin. Diawali karena mahalnya harga lahan di darat, warga desa akhirnya berinisiatif untuk membangun rumah-rumah terapung di permukaan Danau Tonle Sap tanpa harus membeli tanah. Lebih murah, tentu. Lambat laun, generasi demi generasi lahir dan nampaklah wajah Kampung Luong seperti sekarang. Sebuah komunitas masyarakat yang normal, lengkap dengan berbagai fasilitas hidup yang dibutuhkan, hanya saja satu yang berbeda – terapung.

Kesan dingin orang Kamboja yang awalnya aku rasakan hilang seketika saat aku mulai mengenal orang-orang di sini. Kami bak selebriti, dimana setiap senyum dan lambaian tangan selalu dibalas dengan antusiasme yang lebih sewaktu kami naik tuk-tuk di sepanjang jalan menuju ke danau – luar biasa.

Pengalaman pertama menuju danau pun tak kalah menakjubkan. Saat mulai menaiki perahu, rumah-rumah terapung dan perahu-perahu menghampar seluas pandangan mata. Indah. Aku menyapa warga yang kami papasi dan mereka tersenyum hangat. Sungguh tanpa sadar, aku jatuh cinta pada tempat ini. Aku mulai merasa nyaman dan menikmati. Bersama dengan kelompokku, kami tak berhenti mengomentari ini itu. Semua merasa kagum dan miris di saat yang sama. Aku melewati anak bayi yang dimandikan, orang mencuci alat makan, dan mencuci baju - dengan air danau yang tidak bisa dibilang bersih. Hatiku mencelos. Saat itu, aku sebisa mungkin tidak menimbulkan raut muka tidak nyaman. Aku tidak ingin melukai perasaan mereka.

Sungguh tidaklah mudah untuk dapat hidup dengan bersih di tempat ini. Dengan pemasukan tak seberapa yang didapat warga dari memancing atau mencari ikan, sebagian besar uang tersebut digunakan untuk membeli air bersih. Ya, air bersih adalah barang yang sangat mewah dan langka di sini. Sebagian besar warga membeli air untuk kebutuhan sehari-hari mereka, terutama untuk air minum. Satu drum besar air dihargai 2 dolar. Terkadang air yang dibeli hanya ‘sedikit lebih bersih’ dari air yang ada di sekitar rumah mereka karena bersumber dari danau yang sama.  Bukan jumlah yang cukup sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga yang umumnya terdiri dari 4 hingga 6, 7 orang. Maka dari itu, mereka terpaksa melakukan mandi, cuci, kakus (MCK) menggunakan air danau – karena tanpa perlu membayar. Penyakit kulit, diare, dan malaria menjadi gangguan kesehatan yang akrab bagi mereka. Karena kerentanan penyakit yang berasal dari kebersihan air inilah, kami dihadirkan di sini untuk mencoba membantu masyarakat hidup lebih sehat melalui sosialisasi WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) berupa pembagian alat-alat kebersihan dan mengajarkan cuci tangan yang benar, mendistribusikan keramik penyaring air yang dapat menghasilkan air siap minum, menerapkan Vulnerability and Capacity Assessment (VCA), dan sosialisasi mengenai ASEAN untuk menumbuhkan rasa persaudaraan. Kami diharuskan pergi dari satu rumah ke rumah yang lain untuk membagikan alat kebersihan; mendistribusikan keramik penyaring air ke tempat-tempat pelayanan masyarakat agar bisa dimanfaatkan lebih luas, dan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Tujuan kami bukanlah melakukan perubahan karena dalam waktu 2 minggu hal itu tidak mungkin dilakukan. Kami hanya ingin memberikan pilihan dan kesempatan kepada warga dengan harapan dapat hidup lebih sehat dengan sedikit hal yang dapat kami bagikan.

Lewat kegiatan sukarelawan ini, justru kami - para sukarelawan yang banyak belajar. Setiap kesempatan berinteraksi dengan warga di tempat ini selalu membuat kami, aku, bersyukur. Bagiku, mereka adalah orang-orang yang hebat. Meskipun berbagai kesulitan hidup tergaris jelas di raut wajah mereka, tetapi mereka tetap menjadi pribadi-pribadi yang ramah dan hangat. Kecerian anak-anak membuat danau menjadi semarak setiap harinya. Tawa lepas mereka ketika berenang bebas bagai ikan menjadi pemandangan yang mungkin seringkali memikat turis yang berkunjung. Ya, Kampung Luong telah menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di Kamboja. Unik, bukan?

Aku tahu, tidak usah jauh-jauh ke Kamboja, di kanan kiri kita pun masih banyak ditemui yang demikian. Namun, budaya dari tanah yang berbeda tetap akan memberi warna pengalaman yang berbeda. Itu yang aku rasakan.


Tidak pernah kusangka bahwa AYVP akan mengantarkanku kepada sebuah kenangan tak terlupakan dan memberikan pelajaran hidup yang begitu sarat bagiku. Awalnya, aku mengira tidak akan dapat bertahan dengan baik karena lokasi yang begitu menantang dan baru untukku. Namun, Tuhan sungguh Maha Baik, memberikanku keluarga baru yang luar biasa suportif dan menyenangkan, membuat hari-hari di sepanjang program sangat bermakna dan berkesan. Sungguh, apa yang mampu kami berikan ke masyarakat tersebut sangatlah sedikit, tapi yang kami dapatkan begitu banyak. Sejak saat itu, aku seperti menemukan panggilan jiwaku yang lain, yaitu menjadi sukarelawan. Karena dari kegiatan inilah, aku mendapat banyak keluarga baru juga jiwa yang semakin kaya. 

 #ProudtobeVolunteer 
 #IVD2015
credit : Loh Rachel
Membagikan alat kebersihan (hygiene kit) kepada salah satu warga Kampung Luong bersama kelompok kerja

credit : Alounny Lasy
Bergantian dengan teman kelompok mengajarkan cara mencuci tangan yang baik dan benar kepada masyarakat, terutama anak-anak

credit : Alounny Lasy
Awareness campaign mengenai ASEAN kepada anak-anak sekolah di Kampung Luong untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa persaudaraan antaranggota ASEAN




Kata kunci : sukarelawan, relawan, volunteer, volunteering

Tulisan ini dibuat dalam rangka berbagi kebahagiaan menjadi seorang sukarelawan.
Sekitarmu, membutuhkanmu. 

Untuk terlibat kegiatan sukarelawan lebih lanjut di Indonesia, silakan kunjungi website http://ivh.or.id/ (Indonesia Volunteer Hub)

Tidak ada komentar: